Kunjungan Ke PT Campina Ice Cream Industry

(Sabtu, 13 April 2013) IMG_0786

Komunitas Nol Sampah melakukan kunjungan ke PT. Campina Ice Cream Industry yang terletak di Jalan Rungkut Industri II – 15 bersama dengan beberapa tamu undangan dari Auxiliaries, Grand City, Terminal Peti Kemas, Cak dan Ning, SMPN 4 Surabaya, Universitas Airlangga, dan beberapa tamu undangan yang lainnya. PT Campina Ice Cream Industry merupakan perusaahan yang telah menerapkan efisiensi dan merealisasikan kepeduliannya terhadap lingkungan. Efisiensi yang dilakukan oleh PT Campina Ice Cream Industry antara lain efisiensi penggunaan listrik, air, tissue, packaging dalam produksi, dan bahan bakar alat transportasi. Sedangkan untuk merealisasikan kepeduliannya terhadap lingkungan, Pt Campina Ice Cream Industry memberikan Corporate Social Responsibility-nya kepada warga di daerah Karah untuk membuat home industry budidaya jamur dengan bimbingan dari Komunitas Nol Sampah. Selain itu di lingkungan pabrik, PT Campina Ice Cream Industry membuat beberapa model taman, berupa vertical garden dan roof garden yang ditanami kangkung. Pengimplementasian hidup sehat juga diterapkan oleh seluruh karyawan PT Campina Ice Cream Industry, mulai dari pemilahan pembuangan sampah hingga menu makan karyawan.

Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh tamu undangan dari SMPN 4 Surabaya yang sedang mengikuti kompetisi Adiwiyata dan tamu dari Grand City yang berencana memanfaatkan area roof sebagai taman.

Posted in berita | Tagged , | Leave a comment

PERAN ANAK MUDA SEBAGAI GENERASI PENERUS BANGSA

Sebagai komunitas yang mendedikasikan diri di bidang lingkungan, Nol Sampah berusaha menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Untuk itu, kami menerima permintaan magang dari berbagai institusi pendidikan mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi. Kegiatan yang dilakukan oleh anggota yang magang sesuai dengan potensi, visi, dan misi yang dimiliki oleh masing-masing peminat. Sebagian ada yang mengikuti kegiatan rutin yang dilakukan Komunitas Nol Sampah seperti kunjungan ataupun sosialisasi, ada juga yang membantu kegiatan komunitas di bidang teknis, seperti maintenance website dan social media, seperti yang dilakukan oleh Auxiliaries, kelompok magang dari Universitas Ciputra Surabaya.

LOGOAUXILIARIESAuxiliaries dengan visinya yakni ikut berpartisipasi dalam proses pelestarian lingkungan sebagai wujud kepedulian anak muda terhadap lingkungan sekitar, bergabung dengan Komunitas Nol Sampah sebagai salah satu perwujudan misinya untuk merealisasikan visinya.

Komunitas Nol Sampah terbuka bagi masyarakat yang hendak belajar tentang cara menjaga lingkungan. Sebagai lembaga non profit tentunya Komunitas Nol Sampah tidak membatasi dan mempersulit masyarakat untuk bisa bergabung, khususnya bagi anak muda. Karena perlu disadari bahwa anak muda adalah generasi penerus bangsa yang seharusnya diberdayakan untuk membawa pengaruh positif di lingkungan sekitarnya dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik di masa depan.

Selain Auxiliaries, ada juga organisasi Duta Wisata Surabaya yang dikenal dengan Cak dan Ning yang rutin bergabung dengan Komunitas Nol Sampah pada setiap kegiatannya.

Posted in berita | Tagged , , , , | Leave a comment

PAMERAN “LOVE OUR EARTH”

Mulai tanggal 18-23 maret 2013 di atrium Grand City Surabaya diselenggarakan pameran lingkungan “Love Our Earth”.Pameran berlangsung selama satu minggu dan puncaknya nanti pada tanggal 23 maret 2013 Mall akan mematikan lampu selama satu jam pulkul 20:30-21:30.

komunitas Nol Sampah turut ikut berpartisipasi dalam pamean tersebut , ada juga komunita-komunitas lainnya sepeti Bike To Work Surabaya, komunitas vegan, Urban Wild Animal, IndoRunner, dan masih banyak komunitas komunitas yang lainnya ikut bergabung.

Dalam kegiatannya komunitas nol sampah surabaya mengedarkan selebaran yang berupa imbauan kepada pengunjung Grand City Mall untuk tidak memakai kantok plastik dan hemat air kemasan, volunteer komunitas nol sampah membeli penjelasan kepengunjung bahaya tak kresek dan botol yang dipakai berulang-ulang. Dan ternyata banyak sekali dari kita belum tentang bahaya plastik dan kode-kode segitiga yang ada didalam botol atau kotak plastik.

 

 

Posted in berita, Diet Tas Kresek | Leave a comment

DIET TAS KRESEK

Sejak tahun 2009 Komunitas Nol Sampah mempunyai akivitas nyleneh, mereka merampas tas kresek dan menggantinya dengan

tas kain. Dalam beberapa aksinya orang yang kebetulan dirampas tas kreseknya akan merasa gerah karena tiba-tiba seseorang

menawarkan untuk mengganti tas plastik dengan tas kain. Para relawan Nol Sampah menjelaskan kenapa mereka merampas tas

kreseknya dan mengganti dengan tas kain. Program ini kini sudah berjalan lebih dari 3 tahun, aksi ini dilakukan di Mall,

Pasar, Perkampungan, Pusat pembelanjaan dan taman kota.
Menghadapai masalah sampah di Surabaya dan kota-kota besar di Jawa Timur dibutuhkan gerakan yang melakukan

penyadaran kepada masyarakat sekaligus upaya advokasi untuk merubah kebijakan penggunaan tas kresek dan bahan-bahan lain

yang berasal dari plastik. Di banyak negara seperti California dan Jepang dan Negara-Negara Eropa pemakaian tas kresek

dikurangi bahkan dilarang karena dampak lingkungan dari sampah plastik dan proses pembuatan tas plastik.
Komunitas Nol Sampah Surabaya didirikan pada Pebruari 2009 dan berkedudukan di kota Surabaya merasa prihatin dengan

semakin banyaknya konsumsi plastik dan gaya hidup masyarakat urban yang konsumtif menghasilkan sampah melimpah dan menjadi

masalah serius daerah urban seperti Surabaya. Fokus kegiatan dari komunitas NOL Sampah adalah mengajak kita semua untuk

mengubah gaya hidup menjadi ramah lingkungan yaitu dengan cara 5 R: Reduce+Reuse+Recycle+Replace+Rethink
Kegiatan setahun terakir ini fokus pada kampanye “Diet Tas Kresek” serta mengenal jenis plastik dan bahanya. Coba

cermati disekitar kita, semakin hai kita semakin tergantung dengan plastik. Mulai dari kemasan makanan, minuman sampai

peralatan rumah tangga semuanya terbuat dari plastik. dan pemakaian tas kresekpun semakin hari semakin meningkat.
Sudah banyak fakta bahwa tas kresek merusak lingkungan. Jutan biota laut mati karena saluran pernafasan dan pencernaannya

tersumbat plastik. Banyak vegetasi mangrove yang mati karena tas kresek menyelubungi akar dan anakan mangrove
selain berdampak buruk terhadap lingkungan, tas kresek juga berbahaya bagi kesehatn. pada tanggal 14 Juni 2009

Badan POM RI mengeluarkan peringatan publik agar berhati hati memakai tas kresek yang berwarna hitam karena bisa

membahayakan kesehatan. Tas kresek yang biasa kita pakai sehari hari ternyata mengandung zat Karsinogen yang berbahaya yang

berasal dari proses daur ulang yang diragukan kebersihannya. Zat pewarnanya juga meresap kedalam makanan yang dibungkusnya

dan menjadi racun. ketergantungan pada tas kresek mestinya mulai dikurangi karena mengingat dampak bagi lingkungan dan

bahayanya bagi kesehatan manusia
Pengenalan jenis plastik dan bahayanya juga penting. karena ada jenis plastik yang tidak baik untuk kemasan makana

dan minuman. Ada jenis plastik yang direkomendasikan hanya sekali pakai ada juga plastik yang tidak baik jika dipakai untuk

makanan panas atau berlemak. Faktanya dimasyarakat belum banyak yang faham tentang jenis plastik ini. Di masyarakat banyak

beredar kemasan dari plastik yang tidak diketahui terbuat dari jenis plastik apa. Pemilihan jenis plastik yang salah diduga

akan berbahaya bagi kesehatan mulai dari penyabab kanker, gangguan ginjal, gangguan pencernaan, gangguan saraf dan bisa

menyebabkan impotensi.
Peraturan tentang pembatasan atau larangan pemakaian tas kresek belum ada, begitu juga dengan perturan tentang

jenis-jenis plastik belum ada. Sehingga upanya yang bisa dilakukan adalah memberi penyadaran pada konsumen

(baca;masyarakat) sehingga masyrakat tahu dan paham. Jika masyarakat sudah paham maka dapat menghindari pemakaian tas

hresek atau dapat memilih jenis plastik yang benar.

Posted in Diet Tas Kresek | Leave a comment

KONDISI HUTAN MANGROVE DI PESISIR SURABAYA UTARA

Oleh : KJPL, Konsursium Rumah Mangrove dan Ecoton

Kota surabaya merupakan ibukota propinsi Jawa Timur yang memiliki luas sekitar 326,37 km2 dan secara astronomis terletak di antara 07° 21’ Lintang Selatan dan 112° 36’ s/d 112° 54’ Bujur Timur. Kota Surabaya terbagi dalam 33 Kecamatan dan jumlah Kelurahan sebanyak 163 Kelurahan. Panjang garis pantai di Surabaya mencapai 47 Km. Salah satu kawasan pesisir di Surabaya adalah pesisir utara. Kawasan Pesisir Surabaya Utara sering juga di sebut Teluk Lamong. Karena memang bentuknya seperti teluk dan ada sungai Kali lamong yang bermuara di kawasan ini.
Kawasan pesisir Surabaya Utara merupakan salah satu kawasan yang penting bagi kota Surabaya. Ratusan nelayan masih tergantung hidupnya pada hasil tangkapan di pesisir Surabaya Utara. Nelayan sadar keberadaan hutan mangrove sangat penting bagi kehidupan mereka sehari-hari. Berbagai upaya dilakukan nelayan untuk mempertahankan, menjaga dan melestarikan hutan mangrove. Hal itu yang menjadi salah satu peran kelompok nelayan di Pesisir Surabaya Utara.

Pesisir Surabaya utara

Di kawasan ini juga ada hutan mangrove yang tumbuh di sepanjang garis pantainya. Namun ketebalan hutan mangrovenya tidak merata. Bahkan di beberapa titik tidak ada hutan mangrove lagi. Kondisi hutan mangrove yang cukup baik ada di sekitar Dermaga PT Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS), sekitar muara Bozem Moro Krembangan dan muara Kali Lamong. Muara Kali Lamongan vegetasi mangrove sudah membentuk sebuah pulau baru yaitu pulau Galang yang seluruh lahannya ditumbuhi beraneka ragam vegetasi mangrove.
Sekitar PT TPS. Pulau Galang dan Muara Busem Moro Krembangan merupakan wilayah di Pesisir Surabaya utara yang sering menjadi tempat burung bersarang. Ribuan ekor burung dari berbagai jenis bersarang, berteduh dan mencari pakan di kawasan hutan mangrove tersebut. Data Ecoton (diPublikasi 2004) di kawasan ini setidaknya 43 jenis burung air dan 25 jenis burung migran. Setidaknya ada tiga kawasan hutan mangrove yang disukai burung untuk berkumpul, yaitu di sekitar Kawasan Akademi Angkatan Laut, Kawasan PT Terminal Peti Kemas dan Pulau Galang.  Beberapa jenis burung yang ditemukan antara lain kuntul perak kecil (Egretta gazeta), Kuntul Karang (Egretta sacra), Kowak (Nycticorax sp), Raja Udang (Halcyon sp), Gagak (Corvus macrorhyncus), Belkok sawah (Ardeola sp) dan Cangak (Ardea sp). Beberapa data pengamatan menyebutkan di Pesisir Surabaya Utara juga ditemukan jenis burung migran. Burung jenis Pecuk hitam (Phalacrocorac sulcirostis) yang populasinya terus mengalami penurunan masih sering ditemukan di Pesisir Surabaya Utara. Bahkan burung bluwok tercatat beberapa kali ditemukan di Pesisir Surabaya Utara.
Dari keragaman jenis vegetasi mangrove, kawasan Pesisir Surabaya Utara justru memiliki jenis mangrove lebih beragam dibandingkan Pesisir Surabaya Timur. Beberapa jenis vegetasi mangrove yang bisa ditemukan di Pesisir Surabaya Utara antara lain dari Familia Avicenniaceae, Familia Rhizophoraceae, Familia Sonneratiaceae, Familia Meliaceae, Familia Euphorbiaceae, Familia Myrsinaceae, Acanthaceae, dan Familia Palmae. Setidaknya ditemukan 20 jenis vegetasi mangrove di pesisir Surabaya Utara yaitu antara lain Avicennia alba, Avicennia lanata, Avicennia marina,  Lumnitzera racemosa, Acanthus ilicifolius, Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccensis. Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba. Sonneratia caseolaris, Nypa fruticans, Excoecaria agallocha, Aegiceras corniculatum, Aegiceras floridum dan Acrostichum speciosum. Di Pesisir Timur Surabaya menurut catatan hanya ada 18 jenis vegetasi mangrove.

Di Kawasan Pesisir Surabaya Utara ditemukan jenis burung yang dilindungi Undang-undang

Desakan pembangunan menjadi penyebab terancamnya keberadaan hutan mangrove di Pesisir Surabaya Utara. Pembangunan Pelabuhan, Industri, Pergudangan dan Tambak mengancam keberadaan hutan mangrove di Pesisir Surabaya Utara. Pembabatan hutan mangrove masih terus terjadi.  Jika mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup  Nomor 201 tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Hutan Mangrove, hutan mangrove di Pesisir Surabaya Utara dalam kondisi Rusak baik ditinjau dari aspek kerapatan (Pohon/hektar) dan penutupan (%). Dari aspek ketebalan, kondisi hutan mangrove di Pesisir Surabaya Utara cukup memprihatinkan karena ketebalan ideal hutan mangrove di Surabaya (130 X rata-rata perbedaan pasang surut yaitu 1,5-3 meter meter). Karena di beberapa titik ada yang tidak ditumbuhi vegetasi mangrove. Ada juga yang ketebalannya hanya beberapa meter atau maksimal hanya puluhan meter.
Kondisi hutan mangrove di Pesisir Surabaya Utara yang terus mengalami degradasi membutuhkan perhatian serius. Karena keberadaan hutan mangrove di Pesisir Surabaya Utara sangat penting bagi kota Surabaya yang perkembangannya ke arah barat. Pemerintah Kota Surabaya selama ini memberi perhatian serius dalam upaya menyelamatkan hutan mangrove. Namun upaya Pemerintah Kota Surabaya lebih difokuskan di Pesisir Surabaya Timur. Kawasan Pesisir Surabaya Utara kurang memberi perhatian serius.
Berikut ini beberapa catatan penting tentang kondisi hutan mangrove di Pesisir Surabaya Utara.

1.    Hutan Mangrove Rusak berdasarkan Kerapatan dan Penutupan
Kerapatan dan Penutupan hutan mangrove ini merupakan salah satu indikator baik buruk kondisi hutan mangrove di suatu tempat. Ketentuan tentang kerapatan dan ketebalan hutan mangrove ini diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 201 tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove. Untuk Pesisir Surabaya Utara belum ada data tentang bagaimana kerapatan dan Penutupan hutan mangrove. Namun dari pengamatan, sebagian besar kondisi hutan mangrove di Pesisir Surabaya utara diduga dalam kondisi rusak (kerapatan < 1.000 pohon/hektar dan penutupan kurang dari 50%).
Ada beberapa lokasi yang kondisinya diduga sedang (kerapatan 1.000-1.500 pohon/hektar dan penutupan 50-75%) atau baik (kerapatan >1.500 pohon/hektar dan penutupan >75%), yaitu sekitar Dermaga PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS), Kompleks AAL (muara bozem Morokrembangan) dan muara kali Lamong (pulau Galang)

2.    Ketebalan Hutan Mangrove
Salah satu indikator kerusakan hutan mangrove adalah ketebalan hutan mangrove. Dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 201 tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove disebutkan ketebalan hutan mangrove adalah 130 X perbedaan rata-rata pasang surut (1,5-3). Jika mengacu ketentuan tersebut makan ketebalan minimal hutan mangrove adalah minimal 195 meter.
Sementara ketebalan hutan mangrove di Pesisir Surabaya Utara sebagian besar kurang dari 195 meter. Rata-rata ketebalannya hanya belasan sampai puluhan meter saja, bahkan di beberapa lokasi tidak ada hutan mangrove.

Kondisi Hutan Mangrove di depan Tambak. Ketebalannya beberapa meter, bahkan tidak ada

Selain tambak, degaradasi hutan mangrove di juga akibat kegiatan industri dan pergudangan. Ada beberapa gudang atau kegiatan industri yang lokasinya mepet dengan laut. Ini diduga melanggar ketentuan tentang garis Sempadan Pantai.

3.    Pembalakan Hutan Mangrove

Pembalakan hutan mangrove juga terjadi di Pesisir Surabay Utara. Salah satunya terjadi sekitar maret 2011. Belasan hektar hutan mangrove yang letaknya antara Kompleks Akademi Angkatan Laut  (AAL) dan PT Terminal Peti Kemas Surabaya. Selain pembalakan lahan di lokasi tersebut juga direklamasi.

4.    Reklamasi Pelabuhan Teluk Lamong

Pembangunan Pelabuhan Teluk Lamong saat ini sudah dilaksanakan. Untuk membuat dermaga di tengah laut dilakukan reklamasi dari tepi pantai masuk ratusan meter ke arah laut. Kondisi ini tentunya akan mempengaruhi ekosistem. Nelayan di Pesisir Surabaya Utara sudah merasakan dampaknya dan sudah melakukan protes.

5.    Pelabuhan Minyak Sawit (CPO) ilegal

Salah satu lokasi di Pesisir Surabaya Utara, tepatnya di belakang Gudang No 66 ada kegiatan pelabuhan ilegal untuk menurunkan minyak sawit (CPO). Kegiatan ini sudah bertahun-tahun. Minyak sawit dari kapal tongkang diangkut dengan perahu motor ke darat  dan selanjutnya dimasukkan ke dalam jerigen sebelum diangkut truk. Kegiatan ini diduga mencemari lingkungan sekitarnya. Dari pengamatan di lapangan beberapa mangrove mati dan minyak sawit masuk mencemari laut.
Di lokasi ini sebenarnya pernah ada penanaman mangrove oleh Pemprop Jawa Timur, disekitar lokasi tanpa mangrove tumbuh, namun di lokasi untuk perahu mendarat mangrove sudah tidak ada (tidak tumbuh)

6.    Pembangunan Gudang

Pembangunan gudang milik PT Greges Jaya dilakukan hanya beberapa meter dari garis pantai dan diduga melanggar ketentuan tentang garis sempadan pantai. Dari Pengamatan lampangan pembangunan gudang tersebut juga membabat beberapa pohon mangrove (jenis api-api).

7.    Pembuangan Lumpur Bozem Morokrembangan

Tanah penggerukan Bozem Morokrembangan dibuang di lokasi sekitar TPI Osowilanggun. Akibatnya puluhan pohon api-api (jenis Mangrove) mati kekeringan.

KESIMPULAN

1.    Kawasan Hutan Mangrove atau pantai berhutan mangrove termasuk kawasan lindung. Hal itu dipertegaskan dalam UU nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, UU nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan diperjelas dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan lindung. Sehingga Pemerintah Kota Surabaya wajib mennetapkan kawasan hutan mangrove sebagai kawasan lindung (konservasi). Sebenarnya di RTRW Kota Surabaya (Perda Nomor 3 tahun 2007 tentang RTRW) sudah diatur tentang Kawasan Hutan Mangrove sebagai kawasan lindung, namun hal itu dipersempit lagi dalam Pasal 38 ayat 2 yang hanya menegaskan kawasan lindung adalah di pesisir Surabaya Timur.
Usulan kami perlu ada revisi RTRW Kota Surabaya dan menetapkan semua kawasan hutan mangrove sebagai kawasan lindung.

2.    Berdasarkan Kriteria Kerapatan dan Kepadatan maupun ketebalan, kondisi hutan mangrove di Pesisir Surabaya Utara sangat memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian serius. Karena hutan mangrove di Pesisir Surabaya Utara memiliki fungsi ekologis sangat penting bagi kota Surabaya, terutama Surabaya Barat dan Surabaya Utara. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain mencegah intrusi air laut, mencegah abrasi, habitat bagi satwa liar
ketebalan hutan mangrove dari pantai ke daratan adalah minimal 130 X rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat (perbedaannya di Indonesia adalah 1,5-3 meter). Berarti ketebalan minimal hutan mangrove di pantai adalah 195 meter dari laut ke darat. Sedangkan ketebalan hutan mangrove di tepi sungai adalah 50 meter ke arah kiri dan kanan dari garis pasang tertinggi air sungai yang dipengaruhi pasang surut. Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 201 tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove.
Usulan kami mengacu ketentuan diatas dan pentingnya fungsi ekologis Hutan Mangrove bagi kota Surabaya, maka Pemerintah Kota Surabaya perlu segera menetapkan batasan mana kawasan hutan mangrove yang termasuk dalam kawasan lindung (konservasi).

3.    Kegiatan pembukaan tambak, maupun Reklamasi dan Pembalakan liar hutan mangrove merupakan Kejahatan Lingkungan dan pelakunya harus ditindakan tegas.

4.    Kegiatan  pelabuhan liar untuk bongkar muat minyak sawit (CPO) di Kalianak, Surabaya merupakan Kejahatan Lingkungan, karena kegiatan tersebut diduga mencemari lingkungan dan merusak hutan mangrove

5.    Pemerintah Kota Surabaya perlu segera memberi perhatian serius tentang keberadaan Hutan Mangrove, tidak hanya di Pesisir Surabaya Timur, tetapi juga di Pesisir Surabaya Utara.

Posted in berita | Leave a comment

Nol Sampah Himbau Tak Gunakan Kantong Plastik

SURABAYA (jurnalberita.com) – Memperingati Hari Sampah, yang jatuh pada Senin (21/2/2011), para aktivis Nol Sampah mengajak seluruh warga Kota Surabaya untuk tidak menggunakan kantong plastik atau kresek.

 

“Kami mengajak warga Surabaya untuk menggunakan kantong yang bisa didaur ulang dan cepat hancur. Kantong plastik jika sudah menjadi sampah susah dihancurkan,” kata koordinator aksi itu, Wawan Sumbawa, pada saat aksi dengan tema “rampok kantong kresek” di Taman Bungkul Surabaya, Minggu (20/2).

Nol Sampah himbau tidak gunakan kantong plastik. (ist)

Menurutnya, sampah kantong plastik membutuhkan waktu 500 hingga 1.000 tahun agar hancur dengan tanah. Sampah ini juga menyumbat saluran air dan menyebabkan banjir. Wawan menjelaskan kantong kresek terbuat dari plastik yang bahan bakunya minyak mentah. Untuk memproduksi satu ton plastik diperlukan 11 barel minyak mentah

Selain itu, tambahnya, jika tercecar di dalam tanah akan merusak lingkungan, menghambat penyerapan air, menyebabkan banjir, dan merusak kesuburan tanah. Indonesia sendiri diperkirakan memproduksi sekitar 3,7 juta ton sampah per tahun, sementara jumlah sampah dari kemasan plastik saja saat ini sudah mencapai 1,6 juta ton per tahun.

Di beberapa negara, sudah membatasi penggunaan kantong kresek, seperti, Denmark sejak 1994, Prancis dan Italia menghukum pemakai kantong kresek, menyusul China, Inggris, Amerika, Kanada, serta Hongkong sejak 2008.

“Kami mendesak supaya pemerintah segera mengeluarkan kebijakan melarang penggunaan kantong kresek. Kami juga berharap masyarakat terlibat untuk menintai alam ini dengan memisahkan sampah organik dan anorganik,” kata Wawan. (*/jb1)

sumber : http://jurnalberita.com/2011/02/nol-sampah-himbau-tak-gunakan-kantong-plastik/

Posted in Berita Media | Leave a comment